3 Fakta Unik Kopi Arabika

Popularitas kopi Arabika tak perlu diragukan lagi. Bisa dikatakan kalau kopi jenis ini merupakan kopi yang paling banyak dikonsumsi oleh pecinta kopi di seluruh dunia. Dengan berbagai subvariannya, kopi Arabika memanjang dari Etiopia di Afrika sana, Brasil, hingga ke Toraja di Indonesia. Nah, apakah Top Lovers tahu apa saja fakta menarik di balik kopi Arabika? Simak 3 fakta uniknya di bawah ini.

Cukup Sulit di Tanam

Kopi Arabika rentan terhadap hama dan cuaca. Karena itu, kopi yang awalnya hanya tumbuh di Etiopia dan semenanjung Arab ini memerlukan perawatan lebih, seperti keharusan memangkas ranting atau batangnya yang sudah tidak produktif dan terkena hama secara rutin. Di Indonesia sendiri Arabika hanya bisa tumbuh di dataran yang memiliki ketinggian 6000-2000 meter di atas permukaan laut (MDPL). Tak mengherankan Arabika di wilayah pegunungan dan dataran tinggi, misalnya di Gayo (Aceh), Mandailing (Sumatera Utara), Kintamani (Bali) dan Toraja (Sulawesi Selatan).

Baca artikel menarik lainnya: Kopi Indonesia Sebagai Sebuah Kearifan Lokal dan Budaya

First Choice dalam Industri Kopi

Dalam industri kopi dikenal istilah specialty coffee yaitu kopi spesial dengan cita rasa istimewa. Kopi dalam kategori ini didapatkan langsung dari petani kopi, biasanya masih berupa green bean pilihan yang masih utuh, tanpa lobang, tanpa jamur, berwarna bersih dan cerah, dan memiliki bau yang harum. Bisa dikatakan specialty coffee  merupakan level tertinggi kopi berkualitas. Harganya? Memang cukup mahal tapi sangat sepadan dengan kenikmatan yang ditawarkannya.
Dan sebagian besar subvarian kopi Arabika yang berada di Indonesia termasuk specialty coffee, di antaranya Kopi Luwak dari Lampung dan Bali, Kopi Gunung Puntang (Bandung) Kopi Gayo (Aceh), Kopi Mandailing (Sumatera Utara), Kopi Bajawa (Flores), dan Kopi Toraja (Sulawesi).

Baca artikel tentang industri kopi lainnya di 3 Fakta Tentang Industri Kopi Indonesia Yang Kian Menggeliat

Memiliki Sejarah yang Kaya

Umum diketahui oleh khalayak umum kopi Arabika berasal dari semenanjung Arab, lebih tepatnya Yaman. Meski demikian, menurut buku Organic Coffee (2006) karya Maria Elena Martinez-Torres sebetulnya kopi ini berasal dari Etiopia. Disebarkan dalam jalur perdangangan yang terjadi antara saudagar dari Afrika, Arab, dan India, kopi ini menyebar hingga Nusantara. Momentum kopi Arabika di Indonesia adalah menjadi komoditas utama dunia dan sangat terkenal di Eropa pada abad ke-1. Karena saat itu, Arabika banyak dibudidayakan di Jawa, kopi Arabika asal Indonesia dikenal dengan a cup of java, atau “Secangkir Jawa”. Meski saat itu kopi Arabika sudah dibudidayakan di Sumatera dan Sulawesi, kata “java” kadung melekat untuk menyebut kopi berkualitas tinggi dari Indonesia.

Tapi sekitar awal abad ke-20 kejayaan “java coffee” mulai meredup karena banyak tanaman yang terkena ‘penyakit karat daun’ dan mati. Sisi positif dari hal ini, petani-petani kopi di daerah lain berjuang untuk mengembalikan kejayaan Kopi Indonesia. Usaha ini terbilang berhasil sehingga saat ini kita mengenal kopi-kopi Arabika premium asal Indonesia yang mendunia seperti Kopi Gayo (Aceh) Kopi Kintamani (Bali), Kopi Toraja (Sulawesi), dan Kopi Luwak (Lampung). Bahkan yang disebut terakhir termasuk sebagai salah satu kopi termahal dunia.